Memiliki penghasilan terbatas bukan berarti budgeting tidak bisa dilakukan. Justru, budgeting untuk penghasilan terbatas membantu menentukan uang mana yang harus diamankan lebih dulu dan mana yang masih bisa digunakan untuk kebutuhan lain.
Agar lebih realistis, berikut tujuh hal yang perlu diperhatikan ketika menyusun budgeting penghasilan terbatas.

1. Dahulukan Pengeluaran yang Tidak Bisa Ditunda
Jangan langsung membagi penghasilan berdasarkan persentase. Catat terlebih dahulu kebutuhan wajib seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, listrik, dan cicilan.
Misalnya, dari penghasilan Rp 4 juta, kebutuhan pokok ternyata membutuhkan Rp 2,8 juta. Jangan memaksakan aturan tertentu jika hasilnya justru membuat kebutuhan utama tidak terpenuhi. Sisa Rp 1,2 juta baru dapat dibagi untuk tabungan, kebutuhan fleksibel, dan dana tak terduga.
2. Tidak Harus Mengikuti Aturan 50/30/20
Ketika penghasilan terbatas, kebutuhan pokok bisa saja mengambil porsi lebih dari 50%. Fokus pertama adalah memastikan kebutuhan wajib terpenuhi, kemudian mencari ruang untuk tabungan dan pengeluaran tambahan.
3. Masukkan Pengeluaran yang Tidak Datang Setiap Bulan
Servis kendaraan, biaya sekolah, membeli perlengkapan rumah, atau membayar kebutuhan tahunan sering dianggap sebagai pengeluaran mendadak. Jika membutuhkan Rp 600 ribu untuk servis setiap enam bulan, sisihkan sekitar Rp 100 ribu per bulan. Ketika waktunya tiba, pengeluaran tersebut tidak langsung mengacaukan anggaran.
4. Waspadai Pengeluaran Kecil yang Berulang
Budgeting sering gagal bukan karena satu pembelian besar, tetapi karena banyak transaksi kecil. Contohnya, jajan Rp 20 ribu setiap hari bisa mencapai sekitar Rp 600 ribu dalam sebulan. Tetapkan batas mingguan sehingga kebutuhan pribadi tetap ada tanpa mengambil uang untuk kebutuhan utama.
5. Tabungan Tidak Harus Dimulai dari Nominal Besar
Jika hanya mampu menyisihkan Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu setiap menerima penghasilan, tetap lakukan secara konsisten. Tujuan awalnya bukan mengejar nominal besar, melainkan membangun kebiasaan sekaligus menyediakan cadangan ketika terjadi kebutuhan mendesak.
6. Evaluasi Anggaran, Bukan Sekadar Membuatnya
Anggaran yang dibuat di awal bulan belum tentu sesuai kondisi sampai akhir bulan. Periksa kembali pengeluaran setiap minggu untuk melihat pos mana yang mulai melebar.
7. Sisakan Ruang untuk Menikmati Penghasilan
Budgeting penghasilan terbatas yang terlalu ketat justru sulit dipertahankan. Tetapkan sejumlah uang untuk hiburan, jajan, atau kebutuhan pribadi selama tidak mengganggu kebutuhan utama.
Dengan begitu, budgeting untuk penghasilan terbatas tetap memberi ruang untuk menikmati hasil kerja tanpa mengabaikan kebutuhan utama.
Frequently Asked Questions
1. Apakah budgeting penting jika penghasilan kecil?
Ya. Penghasilan terbatas justru membutuhkan prioritas yang lebih jelas agar uang tidak habis untuk pengeluaran yang kurang penting.
2. Berapa persen penghasilan yang harus ditabung?
Tidak ada angka mutlak. Mulailah dari nominal yang mampu dipertahankan secara konsisten setelah kebutuhan wajib terpenuhi.
3. Bagaimana budgeting jika penghasilan tidak tetap?
Gunakan penghasilan terendah sebagai dasar anggaran kebutuhan utama. Saat memperoleh pendapatan lebih besar, selisihnya dapat dialokasikan untuk tabungan atau kebutuhan yang sudah direncanakan.
4. Apakah dana darurat tetap perlu disiapkan dengan penghasilan terbatas?
Perlu. Mulailah dari nominal kecil dan tambah secara bertahap sesuai kemampuan.
